Saturday, 5 May 2012

Fungsi Hadis Terhadap Al Qur'an


Fungsi Hadis Terhadap Al-qur’an
           

             Fungsi hadis terhadap Al-qur’an secara umum adalah untuk menjelaskan makna kandungan Alqur’an yang sangat dalam dan global atau li al-bayan (menjelaskan) sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl (16) :


            Dan kami turunkan kepadamu Al’qur-an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah di turunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
            Hanya penjelasan itu kemudian oleh para ulama di perinci oleh berbagai bentuk penjelasan. Secara garis besar ada empat makna fungsi penjelasan (bayan) hadis terhadap Al-qur’an,  yaitu sebagai berikut:
1.      Bayan Taqrir

Posisi hadis sebagai penguat (taqrir) atau memperkuat keterangan Al-qur’an (ta’kid).[2] Setiap perintah ataupun larangan yang sudah tertera dalam al-Quran diperkuat kembali oleh hadist .Sebagian ulama menyebut bayan ta’kid atau bayan taqrir. Artinya hadis menjelaskan apa yang sudah di jelaskan Al-qur’an, misalnya hadis tentang zakat,puasa,dan haji, menjelaskan ayat-ayat Al-qur’an tentang hal itu juga:





Dari ibnu umar ra. Berkata: Rasulullah bersabda: islam didirikan atas lima perkara: menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan. (HR. Al-Bukhari)
            Hadis diatas memperkuat keterangan perintah shalat, zakat,dan puasa dalam Al-qur’an surah Al-baqarah (2): 83 dan 183 dan perintah haji pada surah Ali Imran (3): 97.
Bayan Tafsir
Hadis sebagai penjelas (tafsir) terhadap Al-qur’an dan fungsi inilah yang terbanyak pada umumnya. Penjelasan yang di berikan ada 3 macam, yaitu sebagai berikut:
a.       Tafshil Al-Mujmal
Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya al-Quran diturunkan dalam penjelasan yang sangat umum. Dengan adanya hadist , hal-hal yang umum tersebut dapat dijelasklan oleh hadis secara terperinci.
Hadis memberi penjelasan secara terperinci pada ayat-ayat Al-qur’an yang bersifat global (tafshil al-mujmal= memperinci yang global), baik yang menyangkut masalah ibadah maupun hukum, sebagian ulama menyebutnya bayan tafsir.[3] Misalnya perintah shalat pada beberapa ayat dalam Al-qur’an hanya di terangkan secara global dirikanlah shalat tanpa disertai petunjuk bagaimana pelaksanaannya berapa kali sehari semalam, berapa rakaat, kapan waktunya, rukun-rukunnya, dan lain sebagainya. Perincian itu adanya dalam hadis nabi, misalnya sabda nabi:


Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat . (HR. Al-Bukhari)
Hadis diatas menjelaskan bagaimana shalat itu dilaksanakan secara benar sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an. Demikinlah juga masalah haji dan zakat. Dalam masalah haji nabi bersabda:

Ambillah (dari padaku) ibadah hajimu. (HR. muslim)
Contoh lain ,Allh SWT memerintahkan kepada umat islam untuk berzakat maka hadist menerangkamnya dengan sangat detail.
Nabi SAW bersabda tentang zakat mas dan perak yang artinya : “berikanlah dua setengah persen dari harta-hartamu”.
            Untuk zakat binatang dan tumbuh-tumbuhan, Nabi Muhammad SAW. Menerangkan dengan beberapa surat yang dikirim kepada pegawai zakat dan beberapa hadist yang ma’sur.
b.      Takhshish Al-Amm
Hadis mengkhususkan ayat-ayat Al-qur’an yang umum, sebaigian ulama menyebut bayan takhshish. Misalnya ayat-ayat tentang waris dalam surah An-Nisa (4): 11



Allah mensyariatkan bagimu tentang (bagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang perempuan.

            Kandungan ayat diatas menjelaskan pembagian harta terhadap ahli waris, baik anak laki-laki, anak perempuan, satu, dan atau banyak, orang tua (bapak dan ibu) jika ada anak atau tidak ada anak, jika ada saudara atau tidak ada seterusnya.  Ayat harta warisan ini bersifat umum, kemudian di khususkan (takhsish) dengan hadis nabi yang melarang mewarisi harta peninggalan para nabi, berlainan agama dan pembunuh. Mislanya sabda nabi:


Kami kelompok para Nabi  tidak meninggalkan harta waris, apa yang kami tinggalkan sebagi sedekah.
Dan sabda nabi:


Pembunuh tidak dapat mewarisi (harta pusaka). (HR.At-tirmidzi)

Ayat diatas kalau kita perhatikan bahwa setiap anak apabila orang tuanya telah meninggal , maka dia akan mendapatkan harta warisan . Ayat tersebut kemudian ditakhsis oleh sabda Nabi SAW. Yang artinya orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim. Maksud dari hadist diatas adalah ahli waris bisa mendapatkan harta warisan apabila ahli waris tersebut tidak kafir , apabila ahli waris tersebut kafir maka dia tidak akan mendapatkan harta warisan.


c.       Taqyid Al-Muthlaq

        Hadis membatasi kemutlakan ayat-ayat Al-qur’an. Artinya Al-qur’an keterangannya secara mutlak, kemudian di takhsish dengan hadis yang khusus. Sebagian ulama menyebut bayan taqyid.[4] Mislanya firman Allah dalam surah Al-Maidah (5): 38



Pencuri lelaki dan pencuri perempuan, maka potonglah tangan-tangan mereka.

Pemotongan tangan pencuri dalam ayat diatas secara mutlak nama tangan tanpa di jelaskan batas tangan yang harus di potong apakah dari pundak, sikut, dan pergelangan tangan. Kata tangan mutlak meliputi hasta dari bahu pundak, lengan, dan sampai teplapak tangan. Kemudian pembatasan itu baharu dijelaskan dengan hadis ketika ada seorang pencuri datang kehadapan nabi dan di putuskan hukuman dengan pemotongan tangan, maka di potong pada pergelangan tangan. Ayat diatas juga ditaqyid oleh hadist nabi yang lain yang artinya “ Tangan pencuri tidak boleh di potong, melainkan pada (pencurian sebiali) seperempat dinar atau lebih. (H.R.Mutafaqa’alaih menuru lafazh muslim)




            Contoh lain adalah sabda Rasulullah SAW berikut  :




Artinya: Telah dihalalkan bagi kamu dua (macam) bangkai dan dua (macam) darah. Adapun dua bangkai adalah bangkai ikan dan belalang , sedangkan dua darah adalah hati dan  limpah.

Hadist ini mentaqyid ayat al-quran yang mengharamkan semua bangkai dan darah, sebagaimana firman allah SWT. Dalam Q.S. Al-Ma’idah (5):3 yang artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai dan darah . . . .  . . (Q.S. Al-Ma’idah (5): 3).






2.      Bayan Naskhi
Hadis menghapus (nasakh) hukum yang di terangkan dalam Al-qur’an. Para ulama, ada yang membolehkan adanya naskh dan ada yang tidak
Diantara ulama yang membolehkan  adanya naskh  hadist terhadap al- quran, juga berbeda pendapat dalam macam hadist yang dapat dipakai untuk menaskh Al-Quran. Dalam hal ini mereka terbagi ke dalam  tiga kelom pok.
Pertama , yang membolehkan me-naskh Al-Quran dengan segala hadist , meskipun hadist ahad. Pendapat ini di antaranya di kemukakan oelh para ulama mutaqaddimin dan Ibnu Hazm serta sebagian besar pengikut Zhahiriah .
Kedua, yang membolehkan menaskh dengan syrat hadist tersebut harus mutawair . Pendapat ini di antaranya dipegagan oleh Mu’tazilah.
         Ketiga, ulama yang membolehkan  menasakh dengan hadist masyhur , tanpa harus dengan mutawatir. Pendapat ini di antatranya di pegang oleh ulama Hanafiyah.
Misalnya kewajiban wasiat yang di terangkan dalam surah Al-baqarah (2): 180


Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara maruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.
Ayat di atas di-nasakh dengan hadis Nabi :

Sesungguhnya Allah memberikan hak kepada setiap yang mempunyai hak dan tidak ada wasiat itu wajib bagi waris. (HR. An-Nasa’i)
3.      Bayan Tasyri’I
Hadis menciptakan hukum syari’at (tasyri’) yang belum dijelaskan oleh Al-qur’an atau mewujudkan hukum yang tidak di sebut dalam Al-Quran. Para ulama berpendapat tentang fungsi sunnah sebagai dalil pada sesuatu hal yang tidak disebutkan dalam Al-qur’an. Mayoritas mereka berpendapat bahwa berdiri sendiri sebagai dalil hukum  dan yang lain berpendapat bahwa sunnah menetapkan dalil yang terkandung atau tersirat secara implisit dalam teks Al-qur’an.

      Dalam hadis terdapat hukum-hukum yang tidak dijelaskan Al-qur’an,ia bukan penjelas dan bukan penguat (ta’kid). Tetapi sunnah sendirilah yang menjelaskan sebagai dalil atau ia menjelaskan yang tersirat dalam ayat-ayat Al-qur’an. Misalnya, keharaman jula beli dengan berbagai cabangnya menerangkan yang tersirat dalam surah Al-Baqarah (2): 275 dan An-nisa’ (4): 29


Hai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu. (QS. An-Nisa’) (4): 29)
Demikian juga keharaman makan daging keledai ternak, keharaman setiap binatang yang berbelalai, dan keharaman menikahi seorang wanita bersama seorang bibi dan paman wanitanya. Hadis tasyri diterima oleh para ulama karena kapasitas hadis juga sebagai wahyu dari Allah yang menyatu dengan Al-qur’an. Contoh lain seperti ridha’ (persusuan) mengharamkan pernikahan mengingat hadist :


      “Haram antara ridha’ apa yang haram lantaran nasab (keturunan).”
Sebagian ulama berpendapat , bahwa segala hokum yang di lengkapi Sunnah, kembali kepada Al-Quran, tidak ada yang berdiri sendiri.[5]



[2]Abdul Majid Khon, Ulumul Hadist, (Jakarta:Amzah,2009.)hlm.16
[3] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadist, (Jakarta:Amzah,2009.)hlm.17
[4] M.agung Salahuddin, Ulumul Hadist ,(Bandung:CV.Pustaka Setia,2009.)hlm.79
[5] Teungku Muhammd Hasbi ash-Shiddieqy,Sejarah & Pengantar Ilmu Hadist,(Semarang::PT.PUSTAKA RIZKI PUTRA 2009.)hlm.140-141





Semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya . . .

Terima kasih . . .